Makanan Sehat - Nanas

Meski umumnya dipercaya bahwa nanas itu berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, dimana nanas digunakan oleh orang-orang pribumi sebagai makanan dan pengobatan, tapi nanas belum ditemukan oleh bangsa Eropa sampai tahun 1493.

Yaitu tahun-tahun saat Christopher Columbus, selama masa pelayarannya yang ke dua ke Karibia, menemukan nanas di suatu pulau yang saat ini dikenal sebagai Guadalupe.

Colombus dan para penjelajah yang mengikutinya, membawa nanas ke Eropa dimana orang-orang mencoba untuk menanamnya. Tidak mengherankan jika bangsa Eropa tidak mendapatkan banyak kesuksesan dalam menanam nanas, karena saat ini sudah diketahui bahwa nanas itu membutuhkan iklim tropis.

Tapi pada abad ke 18, diketahui bahwa nanas itu banyak tumbuh di Hawaii. Saat ini, Hawaii adalah satu-satunya wilayah di Amerika yang menjadi tempat pertumbuhan nanas. Selain Hawaii, nanas juga banyak tumbuh di Mexico, China, Brazil, Thailand, dan Philipina.

Nanas sangat banyak mengandung mangan dan sangat tinggi dalam vitamin C. Namun, nanas itu mungkin lebih dikenal karena banyak mengandung bromelain yang ditemukan dalam inti dan tangkai buahnya.

Bromelain, yang sebenarnya adalah suatu keluarga dari enzim-enzim, dipercaya sangat efektif untuk mengatasi berbagai gangguan penyakit misalnya peradangan dan rasa nyeri yang berhubungan dengan arthritis (radang sendi), ulcerative colitis, sinusitis, dan asthma.

Tapi, apakah klaim-klaim tersebut di dukung oleh hasil penelitian?

Arthritis

Dalam sebuah studi selama 6 minggu di Pakistan, yang dipublikasikan tahun 2004 di Clinical Rheumatology, para peneliti merawat 103 pasien yang menderita osteoarthritis, entah dengan suatu enzim kombinasi (ERC) yang mengandung rutin, bromelain, dan trypsin, atau diclofenac, yaitu suatu obat anti peradangan non-steroid yang tersedia melalui resep.

Para peneliti menemukan bahwa 54,1 persen dari pasien yang dirawat dengan ERC dan 37,2 persen dari pasien yang dirawat dengan diclofenac, melaporkan setidaknya terjadi peningkatan. Jadi, dalam studi ini, orang-orang yang di rawat dengan ERC mendapatkan hasil yang lebih baik dibanding yang menggunakan obat resep.

Sebuah studi di Mumbai, India, yang dipublikasikan tahun 2001 di Journal of Association of Physicians of India juga menyelidiki bagaimana efek dari kombinasi dari ketiga enzim yang sama ini, jika dibandingkan dengan diclofenac.

Secara acak, para peneliti memberikan 50 pasien penderita osteoarthritis pada lutut, yang berusia antara 40 sampai 75 tahun, entah dengan dua sampai tiga tablet dari enzim-enzim ini dua kali sehari, atau 50 mg diclofenac, dua kali sehari. Perawatan dilanjutkan selama 3 minggu.

Para peneliti mencatat bahwa pada akhir perawatan dan pada pertemuan follow-up setelah 7 minggu, kedua kelompok mengalami pengurangan dalam rasa nyeri. Kedua kelompok yang diteliti mengalami sedikit peningkatan dalam jangkauan pergerakan.

Dalam sebuah Studi di Inggris yang dipublikasikan tahun 2002 di Phytomedicine, para peneliti menganalisa efek yang mungkin diberikan bromelain pada orang-orang dewasa yang mengalami nyeri lutut akut selama minimal 3 bulan.

Pada awal studi, para relawan menyelesaikan dua questionnaire. Kemudian, para peneliti memberikan mereka entah 200 mg atau 400 mg bromelain selama satu bulan. 77 orang menyelesaikan studi ini.

Orang-orang yang berada dalam kedua kelompok melaporkan pengurangan dalam gajala-gejala mereka, misalnya rasa kaku. Tapi, para relawan yang mendapat dosis lebih tinggi mengalami peningkatan yang lebih besar.

Para peneliti menyimpulkan bahwa, ‘‘bromelain itu mungkin efektif dalam mengurangi gejala-gejala fisik dan meningkatkan kesehatan secara umum bagi orang-orang dewasa yang menderita nyeri lutut ringan, tergantung dari jumlah dosis yang dikonsumsi.’’

Dalam studi lain di Inggris yang dipublikasikan tahun 2006 di QJM, 47 subjek yang menderita osteoarthritis tingkat menengah pada lutut, diberikan bromelain 800 mg/hari atau sebuah placebo, selama 12 minggu, dengan 4 minggu masa follow-up. 14 pasien bromelain dan 17 pasien placebo menyelesaikan studi ini.

Tapi para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik dalam hasil-hasil diantara kedua kelompok. Mereka menyimpulkan bahwa, ‘‘studi ini menyiratkan bahwa bromelain itu tidak efektif untuk digunakan sebagai suatu perawatan dari OA [osteoarthritis] tingkat menengah ke parah.’’

Hal ini membuat kita jadi berpikir apakah bromelain itu cenderung untuk lebih bermanfaat saat kondisinya relatif ringan dan kurang bermanfaat saat kondisinya lebih parah.

Studi lain, yang juga di Inggris dan dipublikasikan tahun 2004 di Annals of Rheumatic Diseases, mengamati hubungan antara jumlah asupan buah dan sayuran yang tinggi dalam vitamin C, misalnya nanas, dengan kemunculan dari peradangan polyarthritis atau peradangan dari multiple sendi seperti yang terjadi pada rheumatoid arthritis.

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang paling sedikit memakan makanan yang mengandung vitamin C itu memiliki resiko tiga kali lebih tinggi untuk mengembangkan peradangan polyarthritis, dibanding mereka yang paling banyak memakan makanan yang mengandung vitamin C.

Mengomentari studi ini, salah seorang peneliti mencatat bahwa vitamin C itu dikenal sebagai suatu ‘‘pembasmi radikal bebas,’’ yang menjadi penyebab dari kondisi-kondisi peradangan misalnya arthritis.

Selain itu, vitamin C juga mungkin memberikan perlindungan terhadap infeksi yang mungkin menyebabkan arthritis.

Ulcerative Colitis

Ulcerative colitis, yaitu suatu penyakit peradangan bowel yang sebagian besar mempengaruhi usus, mungkin sangat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gejala-gejalanya antara lain diare, nyeri sendi, anemia, rasa letih yang parah, sakit dibagian perut, berat badan menurun, dan pendarahan di usus. Selain itu, ulcerative colitis juga mungkin berhubungan dengan peningkatan dari kanker colorectal.

Laura P. Hale, MD, PhD, seorang peneliti dari Duke University yang telah mempelajari penggunaan bromelain untuk mengatasi peradangan bowel pada tikus, melaporkan dalam sebuah studi yang di publikasikan tahun 2005 di Clinical Immunology, bahwa ‘‘perawatan harian dengan bromelain oral di mulai pada usia lima minggu mengurangi tingkat kemunculan dan keparahan dari colitis spontan pada . . . . tikus. Bromelain juga secara signifikan mengurangi clinical histologic severity dari peradangan colonic saat diberikan pada . . . . tikus yang memiliki colitis.’’

Sinusitis

Dalam sebuah studi di Jerman yang dipublikasikan di In Vivo tahun 2005, para peneliti menganalisa penggunaan bromelain pada 116 anak yang berusia kurang dari 11 tahun dan menderita sinusitis.

62 orang anak di rawat dengan bromelain; 34 diberi perawatan dengan bromelain dan terapi-terapi standard; dan 20 lainnya diberi perawatan dengan terapi-terapi standard (Terapi-terapi standard menyertakan antibiotik, pereda nyeri, dan cortisone sprays.)

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang hanya dirawat dengan bromelain adalah yang paling cepat mengalami peningkatan -- 6,66 hari. Mereka yang dirawat dengan terapi standard mengalami peningkatan dalam 7,95 hari.

Sedangkan anak-anak yang mendapat bromelain dan terapi standard membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melihat peningkatan dalam gejala-gejala mereka, yaitu 9,06 hari.

Para peneliti menulis bahwa anak-anak yang hanya mendapat bromelain ‘‘secara statistik menunjukkan suatu peningkatan yang lebih cepat untuk pulih dari gejala-gejala (p = 0,005) dibanding dengan kelompok-kelompok perawatan lain.’’

Hanya satu anak, yang diketahui memiliki allergi terhadap nanas, yang mengalami reaksi allergi ringan terhadap bromelain. Jadi, tidak mengherankan jika di Jerman, bromelain itu umumnya digunakan untuk sinusitis pada anak-anak.

Penyakit Allergi Saluran Pernapasan atau Asthma

Dalam sebuah studi yang dipubilkasikan tahun 2005 di Cellular Immunology, para peneliti dari Connecticut mempelajari tiga kelompok tikus yang di picu untuk mengalami asthma acute.

Selama 4 hari, kelompok pertama dirawat dengan 2 mg bromelain per kg berat tubuh, dua kali sehari, dan kelompok kedua dirawat dengan 6 mg bromelain per kg berat tubuh, dua kali sehari. Kelompok ketiga, yaitu kelompok kontrol, dirawat dengan saline.

Dari hasil-hasil yang di dapat, para peneliti menyimpulkan bahwa bromelain mengurangi level dari cell-cell darah putih, yang meningkat seiring asthma. Selain itu, bromelain juga menurunkan peradangan cell-cell yang terjadi saat ashtma, yang dikenal sebagai eosinophils, sebanyak lebih dari 50 persen.

Peningkatan seperti itu tidak terlihat pada tikus yang berada dalam kelompok kontrol. Para peneliti mencatat bahwa, ‘‘bromelain mungkin memiliki efek yang mirip dalam perawatan pada manusia yang menderita gangguan-gangguan asthma dan hypersensitif.’’

Nah, haruskah nanas disertakan ke dalam diet? Untuk sebagian besar, itu harus.